Archive for June, 2007

Sekolah Kita…Punya Corporate Culture?

Monday, June 4th, 2007

Jawabannya…diragukan. Ataupun bila sekolah kita punya hal itu…saya rasa kebanyakan sekolah punya corporate culture yang kurang baik. Bahkan mungkin hanya satu atau dua orang saja, dalam satu sekolah, yang pernah mendengar apa itu corporate culture.

Salah satu sumber internet, www.culturebuilders.com, menyatakan bahwa corporate culture adalah sebuah medan energi yang menentukan bagaimana orang-orang berpikir, bertindak, dan memandang dunia di sekitarnya.

Dalam sebuah seminar,saya juga mengetahui bahwa corporate culture yang positif menentukan kemajuan sebuah organisasi dalam bentuk apapun. Dikatakan bahwa ketika hampir semua anggota sebuah organisasi mempunyai kerangka budaya yang sama dalam bekerja, maka organisasi tersebut akan menjadi tepat seperti apa yang diharapkan para anggotanya. Perusahaan dengan corporate culture yang mengutamakan ketepatan waktu dalam kerja akan menjadi perusahaan dengan pegawai yang mempunyai presisi waktu yang bagus. Organisasi dengan kultur berpikir positif akan dipenuhi para anggota yang optimis. Dan masih banyak organisasi dengan kultur-kultur yang lain

Bagaimana sekolah di negara kita?  Apa punya corporate culture?

Jangankan memiliki…mengerti saja mungkin belum… bahkan mempelajarinya pun bisa jadi mustahil. Bukan karena corporate culture adalah hal yang sulit dimengerti, tapi masalahnya tidak banyak ‘penghuni’ sekolah yang mau belajar.

Apalagi para guru… seakan sudah menjadi kaum intelektual dengan ladang ilmu yang terkikis di sana sini. Guru matematika tahunya ya cuma bagaimana menyelesaikan soal dengan rumus dan angka. Guru sosiologi hanya meratapi keadaan sosial ekonominya yang mulai terpuruk. Guru kimia sudah mulai bertahan hidup dengan dukungan zat-zat yang dipelajarinya sejak SMA. Bahkan guru sejarah semakin menyedihkan dengan jatah mengajarnya yang dipangkas habis.

Akhirnya… selain mengajar, mereka mewarnai hidup mereka dengan mengasah ilmu bergosip, ilmu ikut campur urusan rekan guru yang lain, ilmu memprotes atasan, ilmu mengemis gaji, ilmu menghukum siswa dan, yang paling parah, ilmu mencari kesalahan dan mencela sesama guru. ….Benar2 sebuah ‘kemajuan’ yang ‘membanggakan’.

Pada masa Jepang menderita kehancuran pasca bom atom Hiroshima-Nagasaki, tokoh masyarakat yang pertama kali dicari adalah dokter dan petugas medis, ilmuwan dan guru. Guru menjadi prioritas karena dianggap sebagai ujung tombak negara menuju kejayaan kembali. Oleh sebab itu pula, guru menjadi sebuah profesi bergengsi sekaligus mulia di Jepang.

Guru seharusnya mempunyai harga diri yang tinggi serta menjaga kebanggaan mereka sebagai kaum intelektual. Seharusnya seorang guru merasa malu bila punya budaya mem-fotocopy buku dikala harga buku sudah terjangkau. Seharusnya seorang guru malu bila tidak membaca buku yang memuat ilmu2 baru. Seharusnya guru-guru malu ketika hanya bisa mengajarkan hal yang itu-itu saja. Dan seharusnya guru tidak pantas disebut guru bila dia berhenti belajar.

Namun budaya seperti apa yang dimiliki para guru dan sekolah kita sekarang?!!

Saya harap apa yang saya pikirkan tentang sekolah dan guru ini hanyalah sebatas pikiran belaka. Saya harap ini tidak menjadi kenyataan yang berkepanjangan….